Jumat, 23 April 2010

Untitled 001

Entah mengapa dalam kepala Saya terus terbergema sebuah puisi.

Puisi dengan gaya bahasa dan diksi yang sangat saya kenali.

Puisi itu berbunyi . . .


DiamMu begitu jelas,
SedangKu terpaku menatap diam yang lain,
Diam yang dingin

Masih menjadi sebuah ironi,
Sinkronisasi yang sempurna
Secuil rahasia

Rahasia yang membawa hampa bagiMu,
sedang diamku terbagi,
Akankah kau nikmati slalu hampa ini ?
Masihkah diamMu bersenandung untukKu ?

Karena diamMu adalah ujung tombak hampaKu . . .

Entah mengapa Kata-katanya tak lagi bermakna.
Ia telah menjelma menjadi mantra, yang makin lama makin menorehkan luka.


Malam makin larut, matra itu mulai tidak terdengar lagi.
Ia mulai hilang, digantikan dengan bayangan kejadian-kejadian.
Mulai dari sesuatu yang sangat lama hingga kejadian hari ini.
Saya memejamkan mata dan mencoba untuk tidur.
Banyangan itu mulai hilang.
namun Ia digantikan suara-suara.
Suara yang saling bersautan. tinggi rendah, tegas samar, jauh dekat, tua muda, laki-laki perempuan, tawa tangis.
Suara itu terus bersautan dengan berubah intonasi dan warna suara.
Saya sudah terlalu lelah untuk melawan suara-suara itu.
Saya mulai meniknati dan ikut berbincang dengan suara-suara itu.

Malam makin larut.
Suara-suara dan bayang-bayang telah sepenuhnya hilang ditelan kegelapan.
Sunyi dan hampa menggantikan mereka.
Sunyi sekali sampai detak jam terdengar seperti langkh kaki raksasa.
Bungkus-bungkus kopi dan gelas-gelas kotor terlihat menumpuk.

Nampaknya Saya terlalu banyak minum kopi dan baca novel sebelum tidur.
Jarum jam menunjukan pukul 2:39.
Ada suara yang samar mulai terdengar di dalam kepala Saya . . .

Ku tak peduli
Biarkan saja mati
Karena denyutnya kan kau . . .

"Selamat malam" sapa sang bulan mengatar Saya menuju alam mimpi, dimana sekarang sedang hujan berwarna pelangi.

*Tulisan yang ditulis dalam keadaan setengah sadar di malam yang dingin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar